Make your own free website on Tripod.com

Welcome Visit to YLSM Komopa

Hak Ulayat

Home
Visi dan Misi
Kronologis
Hak Ulayat
Kebijakan
Kantor Penghubung ylsm Paniai - Mimika
Surat warga Wamuni
Tuntutan Warga Wamuni
Batas-batas wilayah
Tuntutan Warga Wamuni
Surat Rekomendasi
Architecture Plan of YLSM Office
Photo Gallery
Pesan
Kontak Kami
Lembaran Media
Buku Tamu

  HAK ULAYAT MILIK MARGA, BUKAN MILIK SUKU DAN NEGARA BERDASARKAN SEJARAH ADAT ASAL USUL MARGA PAPUA  BARAT DI SEKITAR AREAL KONSESI PT. FREEPORT INDONESIA,  PAPUA BARAT
 
Oleh Itawadimee Servius Kedepa, Ketua YLSM Komopa.
 
 
PANDANGAN UMUM
Menurut asal suku bangsanya, suku Mee dan Suku Moni berasal dari “PUPU PAPA” Bagian Timur Pegunungan Tengah Papua Barat. Bukti asal-usul sejarah adat perMarga Papua Barat, yang menghuni di sekitar areal konsesi PT. Freeport Indonesia, Tembagapura kurang lebih 150 (seratus lima puluh) Marga, baik itu dari Suku Amungme, suku Moni maupun suku Mee.

Ada kurang lebih 22 (Duapuluh Dua) marga dari gabungan suku (Amungme, Moni dan Mee) yang menghuni di WASE atau disebut BANTI Tembagapura seperti: Warga Wamuni, Natkime, Jamang, Jupinii/Pakage, Beanal/Dogopia, Bukaleng, Omabak, Omaleng, Janampa/Nakapa, Magal, Jangkup/Jawejagani, Abugau, Wamang, Diwitau, Dimpau, Metegau, Bonmang, Jundang, Magai/Yogi, Kedepa/Kogopa/Kobepa, Metang, Awalak  dan lain-lain yang menghuni di bagian Selatan terdekat Gunung Grasberg dan Danau Wanagon.

 Ada kurang lebih 47 (empat puluh tujuh) marga dari suku Moni seperti: Belau, Zondegau, Bagubau, Zagani, Wandagau, Ugimpa, Tipagau, Kobogau, Duwitau, impau, Hanau, Zani, Zoani, Selegani, Bilampani, Abugau, Mbuligau, Sinipa, Gayamopa, Mayani, Tigau, Zanampani, Hogazau, Mazau, Puzau, Sujau, Agimbau, Nagapa, Somou, Japugau, Hagimuni, Maizeni, Hagisimizau, Zonggonau, Kayampa, Widigipa, Ematapa, Holombau, Muzizau, Emani, Nulini, Tapani, Nambagani, Naeyagau, Waeyapa, Bagau, dan Miagoni yang menghuni di bagian Utara terdekat Gunung Grasberg dan Danau Wanagon areal konsesi PT.Freeport Indonesia, Tembagapura, Papua Barat.

Sedangkan 47 (empat puluh tujuh) Marga dari suku Mee (Ekagi) terdiri dari: Kedepa, Kogopa, Kobepa, Nakapa, Tenouye, Bunai, Kadepa, Yatipai, Nawipa, Kogii, Gobay, Degei, Yogi, Muyapa, Dogopia, Yeimo, Kudiai, Nabelau, Umitaapa, Muniipa, Wageepa, Yumai, Yobee, Kogaa, Magay, Tobay, Edowai, Uti, Dawaapa, Adii, Pigai, Anoka, Kayame, Yukei, Mote, Ogetai, Tatogo, Boma, Pigome, Koto, Apoga, Madai, Tebay, Obaipaa, Tekege, Takimai, dan Youw yang menghuni di bagian Barat dekat Gunung Grasberg dan Danau Wanagon areal konsesi PT. Freeport Indonesia, Tembagapura, Papua Barat.

Ada kurang lebih 43 (empat puluh tiga) marga lain yang menghuni di bagian Barat jauh dari Gunung Grasberg dan Danau Wanagon areal konsesi PT. Freeport Indonesia, Tembagapura, Papua Barat, yakni: Giay, Agapa, Pekey, Doo, Pakage, Tagi, Tibakoto, Dukoto, Kedeikoto, Dogomo, Pinibo, Waine, Wakei, Petege, Makai, Anouw, Kegiye, Kegouw, Dimi, Butu, Tigi, Auwe, Kegaakoto, Ukago, Iyowau, Ikomouw, Gane, Bukegaa, Wogee, Mekei, Deba,
Dumapaa, Boga, Pugiye, Kuwayo, Kamo, Tameyai, Nokuwo, Iyoupaa, Giyaipaa, Kotouki, dan Bobii. Mereka (kurang lebih 150 marga) seperti tersebut diatas menuju ke wilayah Paniai menjadi pemilik wilayah adat dan hak ulayat di lembah Yabo, Aga, Degeuwo, Bogo, Uwodege, Eka, Weya, Yawei, Pugo, Daka/Dama, Duma/Dogomo, Yewa, Boma, Aroanop, Banti dan lain-lain melalui 3 (Tiga) Pintu Utama, yakni Kelompok Marga Wodaapa langsung lewat Pintu Barat Punggung
Grasberg-Wanagon, Kelompok Marga Yupi/Maki menuju Paniai melalui Pintu Utara Grasberg-Wanagon, dan Kelompok Marga Madouw menuju Paniai melalui Pintu Selatan Grasberg-Wanagon. Ada marga yang keluar langsung dari gunung terkaya yang satu ini (PUYAPIGU/GRASBERG), ada marga yang datang dari kampung lain dan menetap di Wase  dan ada marga lain yang langsung saja melewati di sekitar gunung tersebut. Mereka semua punya kepentingan tuntutan yang sama kehadapan Pemerintah dan PT. Freeport Indonesia yaitu untuk mendapatkan SAHAM PT. FREEPORT.

Masyarakat Adat Agadide telah melakukan UPACARA ADAT KESELAMATAN DAERAH KERAMAT di Togogei, 29-30 Juli 1999, Desa Yabomaida untuk menyampaikan aspirasinya kepada NKRI melalui Pemerintah Daerah Paniai, Mimika dan PT. Freeport Indonesia. Berdasarkan Rekomendasi Gubernur Provinsi Papua No.: 593/1288/SET 3 Maret 2003 di Jayapura tentang Pengurusan Hak ulayat Masyarakat Hukum Adat di sekitar areal konsesi PT. FI, maka aspirasi tersebut yang berisi: BANTUAN FREEPORT DIBAGI 3 (TIGA) SUKU MELALUI 4 (EMPAT) PINTU ini telah diusulkan kepada pimpinan PT.FI melalui Pemda Mimika, Paniai dan Gubernur Provinsi Papua di Jayapura. Gunung Grasberg-Danau Wanagon adalah DAERAH KERAMAT BERSAMA SUKU AMUNGME (TIMUR), SUKU MONI (UTARA dari PUYAPIGU:UGIMPA-HOMEYO), SUKU MONI (SELATAN dari PUYAPIGU:WASE-MILE 50-DUMADA-BOUWO-KALI YAWEI) DAN SUKU MEE (BARAT dari PUYAPIGU-MINABUA:DEGEUWODIDE-AGADIDE-YABODIDE-EKADIDE-WEYADIDE). Berdasarkan sejarah adat yang berlaku di sekitar areal konsesi PTFI di Tembagapura. Proposal Bantuan Dana Sosialisasi Program Empat Pintu telah diajukan kepada Bupati Mimika dengan No. Agenda: 1438 12-11-2003 di Timika dengan tembusannya disampaikan kepada Bupati dan Ketua DPRD Paniai di Enarotali, Ketua DPRD Mimika di Timika, KA. BPN Provinsi Papua di Jayapura, Ka.Badan KESBANG Provinsi Papua di Jayapura, KABAWASDA Provinsi Papua di Jayapura dan CDD/CLO T.FI untuk memfasilitasi Pengurusan Hak Ulayat yang diajukan oleh masyarakat adat yang menghuni di sekitar areal konsesi PTFI di Tembagapura, Papua Barat. Salah satu diantaranya adalah TUNTUTAN HAK ULAYAT MARGA WAMUNI di Wase.

Batas wilayah kesatuan hidup Suku Amungme, Suku Moni dan Suku Mee di sekitar areal konsesi PT.FI terdekat adalah antara Mile 50-Wase (Desa Base/Banti), Timika (Mimika Pantai-Mimika Kaki Gunung), Aroanop-Duma/Dogomo, Dama/Daka, Bouwo, Yaweidide Timur, Ogiyaidimida, Siriwo, Maniwo, Kaitakaida, Tomosiga, Gunung Gergaji, Ugimpa, Stinga, Hoya kembali ke Timika, Mile 50-Wase (Desa Wase/Banti) wilayah adatnya adalah MILIK WARGA, bukan MILIK SUKU DAN NEGARA.

Pemerintah NKRI, Pimpinan PT. Freeport McMoRan Copper & Gold Inc., dan PT. Freeport Indonesia masih belum memberikan SAHAM bagi Marga Wamuni sebagai pemilik Hak Ulayat WASE di Tembagapura. Pihak Amerika, Indonesia dan Suku Amungme-Kamoro sudah makan dari hasil produksi tembaga & emas di Tembagapura. Tetapi Marga Wamuni dari Wase suku Moni Selatan Grasberg-Wanagon masih belum merasakan hasil sedikitpun juga. Oleh karena itu, tingkat marga segera diberikan SAHAM sebagai tanda pengakuan dan penghargaan terhadap nilai-nilai Hak Asasi Manusia dari pihak Pemerintah NKRI dan PT.FI sebagai Negara-negara yang mempromosikan Hukum, Hak Asasi Manusia, dan Demokrasi. SAHAM tingkat Marga segera diberikan kepada Marga Wamuni dan Marga-Marga lain di sekitar areal konsesi PT.FI di Tembagapura selain Suku dan Negara yang sudah disepakati dalam MoU melalui LEMASA dan LEMASKO di Amerika Serikat tahun 2000 yang lalu. Karena pada mulanya, yang menemukan dan memberikan nama lembah, gunung, kali, rawa, jenis-jenis flora dan fauna didalam wilayah kesatuan hidup per marga di sekitar areal konsesi PT.FI adalah MARGA itu sendiri sesuai hukum adat secara tidak tertulis yang berlaku di Papua Barat. 

REKOMENDASI:

  1. Semua pihak yang berminat menanamkan SAHAM di dalam wilayah adat kepemilikan MARGA seperti tersebut diatas supaya menyediakan dana khusus untuk kepentingan Marga sebagai pemilik Hak Ulayat.
  2. Oleh karena itu, Mr. J. R. Mofett segera menyiapkan tiga lembar SAHAM melalui konsultasi pemerintah NKRI di Jakarta, Provinsi Papua, Pemda Mimika dan Pemda Paniai, yakni:
    1. SAHAM BAGI NEGARA SEBAGAI PENGUASA NKRI.
    2. SAHAM BAGI SUKU SEBAGAI PENGUASA PEMERINTAH ADAT
        DI WILAYAH PAPUA BARAT.
    3. SAHAM BAGI MARGA SEBAGAI PEMILIK TANAH ADAT DAN  HAK ULAYAT UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT ADAT DI SEKITAR AREAL KONSESI PT.FI DI TEMBAGAPURA, PAPUA BARAT.
  3. Tidak dibenarkan apabila pihak pimpinan PT.Freeport McMoRan Copper & Gold Inc di USA, pimpinan PT. Freeport Indonesia dan Pemerintah Indonesia merekomendasikan persoalan Hak Ulayat ini kepada pihak militer TNI dan POLRI bekerjasama dengan FBI dengan melibatkan Kopasus, Badan Inteligen Negara, Jihat, dll.untuk gagalkan tuntutan SAHAM atas Hak Ulayat WASE Tembagapura yang telah diajukan oleh DAP POKJA Marga Wamuni dengan alasan mengamankan alat-alat vital PT.Freeport Indonesia di Tembagapura, Papua Barat.
  4. SAHAM PT. Freeport yang dituntut segera diberikan langsung kepada MARGA WAMUNI tidak melalui lembaga suku,  lembaga agama ataupun lembaga pemerintah berdasarkan kepemilikan dusun, lihat sejarah adat Marga Wamuni.
  5. Kurang lebih 150 marga di sekitar areal konsesi PT.Freeport agar segera membentuk DAP POKJA per Marga untuk menyiapkan asal-usul sejarah adat per Marga, Mendata jumlah jiwa per Marga dan melakukan pemetaan
    batas-batas wilayah adat per Marga untuk menentukan pemiliknya sebagai aset Pembangunan Masa Depan Marga untuk meningkatkan kesejahteraannya.
  6. Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia di Jakarta melalui masing-masing Pemerintah Daerah, baik itu Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika, Pemerintah Daerah Kabupaten Paniai, Pemerintah Daerah Kabupaten Puncak Jaya dan Pemerintah Daerah Kabupaten Nabire dengan melibatkan Pemerintah Provinsi Papua diminta agar segera menyiapkan Peraturan Daerah Khusus sesuai amanat OTSUS Papua tentang Pengembalian Status Kepemilikan Tanah Adat kepada Marga Papua Barat Asli sebagai pemilik Hak Ulayat Abadi berdasarkan sejarah adat per marga. Kepemilikan Tanah Adat bukan milik Suku dan Negara. Mereka (Suku dan Negara) itu cukup hanya  sampai di pengawasan saja. Kalau semua jadi perampas hak ulayat, siapa yang kontrol?
  7. Semua pihak di Papua Barat diminta agar wajib menegakkan, memajukkan, melindungi, menghormati, dan saling mengakui hak-hak masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat.

 
HAK ULAYAT WASE MILIK MARGA WAMUNI TEMBAGAPURA
BERDASARKAN ASAL-USUL SEJARAH ADAT WASE WEST PAPUA

Oleh Yonathan Wamuni, Kepala Suku/Marga Wamuni
 

A. LATAR BELAKANG (KHUSUS MARGA WAMUNI DI WASE)

 Asal usul Marga Wamuni
Pertama-tama ada seorang laki-laki Wamuni yang bernama: OGOAMAKINOGABEGA WAMUNI dan dia seorang diri berada di WASE. Dan benda-benda yang ia punyai adalah sebagai berikut: Babi Putih Betina 1 ekor, dan Busur dan anak panah (Mina Buih). Selanjutnya babi tersebut lepas dari tuannya OGOAMA KINOGABEGA WAMUNI masuk dalam Gunung Wase. Istilah dalam bahasa Moni (Tau Wogo) artinya Babi Setan. Laki-laki OGOAMA KINOGABEGA WAMUNI ini tinggal di WASE. Setelah ia tinggal, ia melahirkan tiga orang anak laki-laki, yaitu: 1.NAGAKINAGA WAMUNI, laki-laki pertama,  2.INIGA KINIGA WAMUNI, laki-laki kedua, 3.INIGI KINIGI WAMUNI, laki-laki ketiga. Mereka tiga bersaudara dari Marga Wamuni ini bersama Bapak mereka OGOAMA KINOGABEGA WAMUNI tinggal bersama yang sekarang disebut Kampung Banti dan Jimbatapa. Lalu di kampung Wase, mereka sepakat membuka lahan untuk membuat kebun. Lalu mereka membersikan lahan tetapi tidak ada sesuatu yang mereka bisa tanam untuk tanaman di kebun dan juga tidak ada orang sama sekali di sekitar WASE BANTI untuk meminta sesuatu bibit sama mereka untuk ditanam di kebun itu, sehingga mereka tiga orang laki-laki Wamuni ini sepakat untuk membunuh ADIK LAKI-LAKI BUNGSU yang namanya INIGI KINIGI WAMUNI dan mereka bunuh dan potong-potong serta iris-iris dagingnya lalu hamburkan di dalam kebun yang sudah dibersihkan. Lalu besok paginya mereka melihat tanaman itu jadinya TANAMAN KELADI (WAA). Dan tadi Wamuni mereka tiga orang bersaudara tetapi sekarang tinggal hanya dua orang bersaudara, karena adik bungsu yang bernama INIGI KINIGI WAMUNI sudah dibunuh, dan jadi tanaman Keladi. Setelah itu, kedua bersaudara NAGA KINAGA WAMUNI dan INIGA KINIGA WAMUNI mereka berdua, karena kehilangan adik bungsu mereka, dan kaka pertama NAGAKINAGA WAMUNI mengatakan bahwa kita harus berduka lalu ia perintahkan adiknya INIGA KINIGA WAMUNI bahwa suruh bakar kayu yang ia simpan namanya HAYEBOTAGI untuk mereka  membuat tungku api tetapi permintaan mereka ditolak. Dengan demikian terjadilah KERIBUTAN, PERTENGKARAN dan BAHU PUKUL lalu mereka bubar. NAKAKINAGA WAMUNI lari menuju ke DUMADAMA, JASIGA DAN AROANOP. Dan saudaranya INIGA KINIGA WAMUNI dia tinggal tetap di WASE (Banti), Jimbatapa dan Kugumugu. Dan ia melahirkan beberapa orang lagi dan mereka menduduki daerah pertama yang bapak mereka wariskan yaitu DAERAH BASE/BANTI, JIPATAPA, DAN GUNUNG KUGUMUGU. Dan ia melahirkan beberapa orang lagi dan mereka menduduki daerah pertama yang Bapak mereka wariskan yaitu daerah WASE, Banti, Jimbatapa di Tembagapura. Dan selanjutnya keturunan kami Wamuni yang sekarang adalah WASE (BANTI) seperti BAPAK  TUA KOAOMBO WAMUNI, BILIMBABO WAMUNI, DAN KEPALA KAMPUNG WASE (BANTI) YANG SEKARANG. Jadi daerah Wase-Banti adalah milik kepunyaan WAMUNI serta segala sesuatu yang ada di WASE, BANTI. Daerah-daerah ini adalah asal-usul Marga Wamui entah segala sesuatu yang ada di BASE Banti dan penghasilan tambang PT. Freeport Indonesia yang dikelola ini semuanya HAK MILIK MARGA WAMUNI, maka itu kami mengatakan bahwa yang sisa dan ampas itu kami punya orang lain sudah makan dan kenyang. Maka itu atas dasar ini kami mengatakan kami punya. Oleh sebab itu kembalikanlah HAK KAMI yang “PADA DASARNYA, KAMI PUNYA UNTUK KAMI dan ORANG LAIN PUNYA UNTUK ORANG LAIN”.

B.  MARGA  WAMUNI BERSAMA MARGA-MARGA LAIN DI WASE
Setelah Marga Wamuni tersebar di daerah WASE/BANTI ada beberapa marga lain yang hidup bersama-sama disana sampai saat ini; seperti : NATKIME, WAMUNI, JAMANG, OMALENG, OMABAK, BUKALENG, & MAGAL.  Wase (Banti)-Jimbatapa-Kugumu adalah kepunyaan nenek moyang MARGA WAMUNI. Itulah asal-usul terjadinya MARGA WAMUNI serta berkembang sampai sekarang, ini merupakan pelurusan sejarah adat, kepemilikan hak ulayat yang kekayaan alamnya dikelola PT. FI dari tahun 1936 hingga sampai tahun 2005.

C. PERSOALAN SERIUS TERLUKIS DALAM BAGAN DI BAWAH INI

Keterangan:
Penjual (NKRI), Pembeli (Amerika Serikat) dan Juru Potong Daging Babi (Karyawan/ti Freeport dan Kontraktor lainnya) yang bekerja di areal konsesi Freeport, sedangkan Pemilik Babi (Marga Wamuni) menjadi penonton setia diatas tanah leluhur kami sendiri di Wase-Jipatapa-Kugumugu, sekarang disebut kampung Banti Tembagapura, Papua Barat.

GRASBERG DISERAHKAN SECARA PAKSA
Marga Wamuni terusir dari Wase akibat pengkondisian TNI untuk mengamankan alat-alat vital PT Freeport dari gangguan tuntutan Hak Ulayat. Semua tuntutan Hak Ulayat Marga Wamuni dinilai gerakan OPM menghalangi kegiatan PT. Freeport. Gunung terkaya yang satu ini telah diserahkan secara paksa kepada Pemerintah Indonesia dan Amerika  Serikat tanpa koordinasi Masyarakat Adat secara menyeluruh terutama Marga Wamuni sebagai pemilik Hak Ulayat Wase yang sekarang disebut Banti ini untuk kepentingan kegiatan PT. Freeport di Tembagapura, Papua Barat.

HAK ULAYAT MARGA WAMUNI DITUNTUT DARI PERAMPASANNYA
Telah terbentuk Dewan Adat Papua (DAP) Kelompok Kerja (POKJA) Marga Wamuni 14 Pebruari 2005 untuk membebaskan Hak Ulayat dari Perampasannya. 14 Mengapa, dalam kontrak karya PT. FI diakui Suku Amungme dan Kamoro saja yang mempunyai hak Ulayat di sekitar areal konsesi PT. Freeport Indonesia?  Semua daging dan darah mama Marga Wamuni sudah dimakan habis  oleh Suku dan Negara di Tembagapura. Kembalikan hak kami ini kepada WMARGA WAMUNI di WASE karena sekarang tinggal tulang dan ampas saja.

Kami sangat mengharapkan dukungan kampanye dari semua pihak untuk memperkenalkan, mempertahankan, melindungi, dan membebaskan Hak Ulayat  dari perampasannya.

Itawadimee Servius Kedepa Amoye

CUSTOMARY RIGHT FOR LAND, IS NOT PROPERTY OF TRIBE AND STATE BASED UPON THE HISTORY CLAN CUSTOM GENESIS of WEST PAPUA AROUND AREAL CONCESSION of FREEPORT, WEST PAPUA

By Itawadimee Servius Kedepa, Chief of YLSM Komopa

 
GENERAL DEBATE
According to source of tribe him, tribe of Mee and Tribe of Moni come from " PUPU PAPPA" Part Of Middle East Mountain of West Papua. Evidence of Asal-Usul custom history per Clan of West Papua, dwelling around concession areal of PT. Freeport Indonesia, Tembagapura more or less 150 (one hundred fifty) Clan, and for that from Tribe of Amungme, tribe of Moni and tribe of Mee.
 
There is more or less 22 (clan twenty two) of tribe aliance (Amungme, Moni and of Mee) dwelling in WASE or referred as BANTI Tembagapura like: Ad For  clan of Wamuni, Natkime, Jamang, Jupinii/Pakage, Beanal/Dogopia, Bukaleng, Omabak, Omaleng, Janampa/Nakapa, Magal, Jangkup/Jawejagani, Abugau, Uwamang, Duwitau, Dimpau, Metegau, Bonmang, Jundang, Magai/Yogi, Kedepa/Kogopa/Kobepa, Metang, Awalak  and others dwelling in South shares closest Mount of Grasberg and Lake of Wanagon.
 
There is more or less 47 (fourty seven) is clan the than tribe of Moni like: Belau, Sondegau, Bagubau, Zagani, Wandagau, Ugimpa, Tipagau, Kobogau, Dwitau, Dimpau, Hanau, Zani, Zoani, Selegani, Bilampani, Abugau, Mbuligau, Sinipa, Gayamopa, Mayani, Tigau, Zanampani, Hogazau, Mazau, Puzau, Sujau, Agimbau, Nagapa, Somou, Japugau, Hagimuni, Maizeni, Hagisimizau, Zonggonau, Kayampa, Widigipa, Ematapa, Holombau, Muzizau, Emani, Nulini, Tapani, Nambagani, Naeyagau, Waeyapa, Bagau, and Miagoni dwelling in upstate closest Mount of Grasberg and Lake of Wanagon concession areal of PT. Freeport Indonesia, Tembagapura, West.Papua.
 
While 47 (fourty seven) Is clan the than tribe of Mee (Ekagi) consists of: Kedepa, Kogopa, Kobepa, Nakapa, Tenouye, Bunai, Kadepa, Yatipai, Nawipa, Kogii, Gobay, Degei, Yogi, Muyapa, Dogopia, Yeimo, Kudiai, Nabelau, Umitaapa, Muniipa, Wageepa, Yumai, Yobee, Kogaa, Magay, Tobay, Edowai, Uti, Dawaapa, Adii, Pigai, Anoka Kayame, Yukei, Mote, Ogetai, Tatogo, Boma, Pigome, Koto, Apoga, Adequate, Tebay, Obaipaa, Tekege, Takimai, and Youw dwelling in West shares of near by Mount of Grasberg and Lake of Wanagon concession areal of PT. Freeport Indonesia, Tembagapura, West Papua.

There is more or less 43 (fourty three) ad for other dwelling in West Shares far from Mount of Grasberg and Lake of Wanagon concession areal of PT. Freeport Indonesia, Tembagapura, West Papua, namely: Giay, Agapa, Pekey, Doo, Pakage, Tagi, Tibakoto, Dukoto, Kedeikoto, Dogomo, Pinibo, Waine, Wakei, Petege, Makai, Anouw, Kegiye, Kegouw, Dimi, Butu, Tigi, Auwe, Kegaakoto, Ukago, Iyowau, Ikomouw, Gane, Bukegaa, Wogee, Mekei, Deba, Dumapaa, Boga, Pugiye, Kuwayo, Kamo, Tameyai, nokuwo, Iyoupaa, Giyaipaa, Kotouki, and Bobii.
They (more or less 150 clan) like the above going to region of Paniai become the owner of custom region and customary right for land rights in dale of Yabo, Aga, Degeuwo, Bogo, Uwodege, Eka, Weya, Yawei, Pugo, Daka/Dama, uma/Dogomo, Yewa, Boma, Aroanop, Banti and others pass 3 (three) Main Gate, namely Clan Group of Direct Wodaapa pass Door West Back of Grasberg-Wanagon, Clan group of Yupi go to Paniai pass Door North of Grasberg-Wanagon, and Clan Group of Madouw go to Paniai pass Door South of Grasberg-Wanagon. There is secretory clan is direct the than richest mount which is one this (PUYAPIGU/GRASBERG), there is clan is which come from other kampong and remain to in Wase and there is just direct other clan pass around mount. They were all have importances of is same demand is Governmental fore part and PT. Freeport Indonesia that is to get SHARE of PT. FREEPORT.
 
Society Custom of Agadide have conducted CEREMONY CUSTOM SAFETY OF AREA of KERAMAT in Togogei, 29-30 July 1999, Countryside of Yabomaida to submit the aspiration to NKRI through Local Government Of Paniai, Mimika and of PT. Freeport Indonesia. Pursuant To Recommendation Governor of Papua Province No.: 593/1288/SET 3 March 2003 in Jayapura concerning Management Of Rights Customary right for land Society Customary Law around concession areal of PT. FI, hence the aspiration containing: AID of FREEPORT DIVIDED 3 (three) TRIBE THROUGH 4 (this EMPAT) DOOR have been proposed to leader of PT.FI through Local government of Mimika, Paniai and Governor of Papua Province in Jayapura. Mount of Grasberg-Danau Wanagon is AREA of
KERAMAT WITH TRIBE of AMUNGME (EAST), TRIBE of MONI (NORTH of PUYAPIGU:UGIMPA-HOMEYO), TRIBE of MONI (SOUTH of PUYA PIGU:WASE-MILE 50-DUMADA-BOUWO-YAWEI RIVER) AND TRIBE of MEE (WEST of PUYA PIGU-MINABUA:DEGEUWODIDE-AGADIDE-YABODIDE,EKADIDE-WEYADIDE) based upon the history custom applying around concession areal of PTFI in Tembagapura. Proposal Aid Fund Socialization Program Four Door have been raised to Regent of Mimika with No. Agenda: 1438 12-11-2003 in Timika with the carbon copy of sent to Regent and
Chief of DPRD Paniai in Enarotali, Chief of DPRD Mimika in Timika, Chief of BPN Papua Province, Kepala of KESBANG Papua Province, Chief of KABAWASDA Papua Province and of CDD/CLOPT.FI for the facility of Management of Rights Customary right for land raised by custom society dwelling around concession areal of PTFI in Tembagapura, West Papua. One of the among others is CLAN DEMAND RIGHTS CUSTOMARY RIGHT FOR LAND of WAMUNI in Wase.
 
Regional boundary of unity of Tribe life of Amungme, Tribe of Moni and Tribe of Mee around concession areal of PT.FI closest is between Mile 50-Wase Countryside of Wase/Banti), Timika (Mimika Pantai-Mimika Hillside), Aroanop-Duma/Dogomo, Dama/Daka, Bouwo, Yaweidide East, Ogiyadimida, Siriwo, Maniwo, Kaitakaida, Tomosiga, Mount Saw, Ugimpa, Stinga, Hoya return to Timika, Mile 50-Wase (Countryside of Wase/Banti) regional of custom of is owned by CLANLY, is not PROPERTY OF TRIBE AND STATE.

Government Of NKRI Leader of PT. Freeport McMoRan Copper & Gold Inc., and PT. Freeport Indonesia still not yet given SHARE for Clan of Wamuni as owner of
Rights Customary right for land of WASE in Tembagapura. American side, Indonesia and Tribe of Amungme-Kamoro have eaten from result produce copper & gold in Tembagapura. But Clan of Wamuni of Wase tribe of Moni South of Grasberg-Wanagon still not yet felt even little result also. Therefore, clan level is
immediately given SHARE as confession sign and appreciation to Human Rights values of Governmental side of NKRI and of PT.FI as Nations/Company promoting
Law, Human Right, and Democracy.
Clan SHARE Level was immediately passed to Clan of Wamuni and other Clan around concession areal of PT.FI in Tembagapura besides Tribe and State which have agreed on in Mou through LEMASA and of LEMASKO in United States year 2000 ago. Because in the begining, finding and giving the name of dale, mount, river/rill, bog, flora types and fauna in region unity of life per clan around Concession areal of PT.FI is CLAN of  itself according to customary law unwrittenly applying  in West Papua.
 
RECOMMENDATION
  1. All enthusiastic sides inculcate SHARE in CLAN ownership custom region like the above so that provide special fund for the sake of Clan as owner of Rights Customary Right For Land.
  2. Therefore, Mr J. R. Mofett immediately prepare three SHARE sheet through governmental consultancy of NKRI in Jakarta, Papua Province, Local government of Mimika and Local government of Paniai, namely
    1. SHARE FOR STATE AS POWER OF NKRI.
    2. SHARE FOR TRIBE AS GOVERNMENTAL POWER of CUSTOM IN    REGION of WEST PAPUA.
    3. SHARE FOR CLAN AS LAND OWNER OF CUSTOM AND RIGHTS   CUSTOMARY RIGHT FOR LAND TO IMPROVE KESEJAHTRAAN SOCIETY CUSTOM AROUND AREAL CONCESSION of PT.FI IN TEMBAGAPURA, WEST PAPUA.
  3. Do not be agreed, if leader side of PT. Freeport McMoRan Copper & Gold Inc in USA, leader of PT. Freeport Indonesia and Government of Indonesia recommend problem of this Rights Customary right for land to military side of Army/TNI and POLICE work along with FBI entangled Kopasus, Body Intelligence State, Jihat, etc to discomfit SHARE demand by right of Customary right for land of WASE Tembagapura which have been raised by Clan DAP POKJA of Wamuni with of an protect vital appliances of PT. Freeport Indonesia in Tembagapura, West Papua.
  4. SHARE of PT. Freeport claimed is immediately given direct to CLAN of WAMUNI do not pass tribe institute, religion institute and or government agency pursuant to ownership of orchard, see Clan custom history of Wamuni.
  5. More or less 150 clan around concession areal of PT. Freeport so that immediately form DAP POKJA per Clan to prepare history asal-usul of Custom per Clan, Data of amount of heads per Clan and conduct mapping
    of regional boundary of custom per Clan to determine the owner of him as asset Development of Clan Future to improve prosperity of him.
  6. Government of Unity State Republic Of Indonesia in Jakarta through the each Local Government, that Local Government Of Sub-Province of Mimika, Local Government Of Sub-Province of Paniai, Local Government Of Glorious Sub-Province Top (Puncak Jaya) and Local Government Of Sub-Province of Nabire entangled Governmental  of Papua Province asked so that immediately prepare Special By Law according to commendation of OTSUS Papua concerning Return Of Status of Ownership of Land Ground Custom to Clan of Original West Papua as owner of Endless Rights Customary right for land based upon the history custom per clan. Ownership of Land Ground Custom is not property of Tribe and State. They are (Tribe and State) that is enough stop at just observation. If all becoming hijackers of customary right for land rights, who control?
  7. All sides in West Papua asked so that is obliged to uphold, moving forward, protecting, respecting, and each other confessing custom society rights as owner of customary right for land rights.

 
 
CUSTOMARY RIGHT FOR LAND of WASE CLAN PROPERTY ofWAMUNI PURSUANT TO CLAN HISTORY CUSTOM of WASE, WEST PAPUA
By Yonathan Wamuni, Head Tribe/Clan of Wamuni.
 
 
A.  BACKGROUND

CLAN SPECIAL of WAMUNI IN WASE. Clan Genesis of Wamuni first of all there is a men of Wamuni the so calledness: OGOAMA KINOGABEGA WAMUNI and him alone reside in WASE. And objects which he haves shall be as follows: Female White Pig 1 tail, and Bow and dart (Mina Effervescence). Hereinafter the pig get out of the sir of OGOAMA KINOGABEGA WAMUNI enter in Mount of
Wase. Term in Ianguage of Moni (Tau Wogo) mean Pig Devil. Men of OGOAMA KINOGABEGA this WAMUNI live in WASE.
 
After he remains, he bears three boy people, that is: 1. NAGAKINAGA WAMUNI, first men, 2. INIGA KINIGA WAMUNI, men both 3. INIGI KINIGI WAMUNI, third men. They are three relative of Clan of This Wamuni with their Father of OGOAMA KINOGABEGA WAMUNI remain with which was now referred as  Kampong of Wase/Banti and of Jimbatapa. Last in kampong of Wase, they mutually agree to open farm to make garden. Last of them isn't it farm but nothing are they can
plant for crop in garden and also nobody is at all around WASE BANTI to ask something is same seed of them to be planted in that garden, so that they were
is three joe of Wamuni this mutually agree to kill YOUNGEST BROTHER MEN which the name of him of INIGI KINIGI WAMUNI and them kill and cut to pieces and also shred the flesh of then interspersed in garden which have been cleaned. Then tomorrow morning him they see that crop it to be CROP of KELADI (WAA). And mentioned of Their Wamuni of your three people but now remain only your two people, because so called youngest of INIGI KINIGI WAMUNI have been murdered, and become crop of Keladi.

Afterwards, both have FRAGON brother to of NAGA KINAGA WAMUNI and of INIGA KINIGA WAMUNI both of them, because their youngest loss, and first of NAGAKINAGA WAMUNI say that we have to sorrow then he command thes brother of INIGA KINIGA WAMUNI that errand burn wood which he keeps the name of him of HAYEBOTAGI to they to make fire stove but their request was refused. Is thereby happened by HUBBUB, QUAREL and SHOULDER BEAT
then they disband. NAGA KINAGA WAMUNI run to DUMADAMA, JASIGA AND of AROANOP. And you of INIGA KINIGA WAMUNI he remain remain to in WASE (Banti), Jimbatapa and of Kugumugu. And he bears some people again and they
occupy first area which is their father endow that is AREA of WASE/Banti, JIPATAPA, AND MOUNT of KUGUMUGU. And he bears some people again and they occupy first area which is their Father endow that is a rea of WASE, Banti, Jimbatapa in Tembagapura. And hereinafter clan of us of Wamuni which now is WASE (BANTI) like OLD FATHER of KOAOMBO WAMUNI, BILIMBABO WAMUNI, AND HEAD KAMPONG of WASE (BANTI) WHICH NOW.
 
Become area of Wase-Banti is owned by property of WAMUNI and also all something which in WASE, BANTI. This Areas is Clan asal-usul of Wamui don't know all something which in WASE Banti and production of mine of PT. all these managed Freeport Indonesia of CLAN PROPERTY him of WAMUNI, hence that we say that which is dregs and remains is we have others have eaten and fully filled. Hence that on the basis of this we tell us have. On that account returning RIGHTS US  which " BASICALLY, WE HAVE TO WE and OTHERS HAVE FOR OTHERS".
 
B.   WAMUNI WITH OTHER CLAN IN WASE
After Clan of Wamuni spread over in area of WASE/Banti there are some other clan which is lives together there till now; like : NATKIME, WAMUNI, JAMANG,
OMALENG, OMABAK, BUKALENG & MAGAL. Wase (You You are property of CLAN ancestors of WAMUNI. That of asal-usul the happening of CLAN of WAMUNI and also expand hitherto, this is streamlining of custom history, ownership of customary right for land rights which the was natural resources of managed by PT. FI of year 1936 till year 2005.
 
C.SERIOUS PROBLEM PAINTED IN SCHEMA HEREUNDER

Description:

Seller (NKRI), Buyer (United States) and Crosscut Expert of Employees (Freeport and other Contractors) laboring in concession areal of Freeport, while Owner Of Pig (Clan of Wamuni) becoming devoted audience above land of ourselves ancestor in Wase-Jipatapa-Kugumugu, is now referred as Kampong of Banti Tembagapura, West Papua.
 
GRASBERG DELIVERED WITH FORCIBLY
Clan of Wamuni dissipated from Wase effect of condition of TNI to protect vital appliances of PT Freeport of Rights Customary right for land demand trouble. All Clan Rights Customary right for land demands of Wamuni assessed by movement of OPM hinder activity of PT. Freeport. Richest Mount which was one this have been delivered forcibly to Government of Indonesia and United States without Society Custom coordination by totally clan
Especially Wamuni as owner of Rights Customary right for land of Wase which was now referred  by this Banti for the sake of activity of PT. Freeport in Tembagapura, West Papua.
 
PRETENTED TO CLAN CUSTOMARY RIGHT FOR LAND of WAMUNI OF HIJACK of

Have been formed by Council Custom of Papua (DAP) Working Team (Clan POKJA) of Wamuni 14 February 2005 to free Rights Customary right for land of Hijack of him. Why, masterpiece in bond of PT. FI confessed by Tribe of Amungme and just of Kamoro which have Customary right for land rights around concession areal of PT. Freeport Indonesia? All Clan mamma blood and fleshs of Wamuni have been eaten finished by Tribe and State in Tembagapura. Returning our rights this to CLAN of WAMUNI in WASE because now remain just dregs and bone.
 
We very expect campaign support from all sides to introduce, to maintaining, protecting, and freeing Rights Customary right for land of hijack of him.

Itawadimee Servius Kedepa Amoye

About this ylsmkomopa website
Contact Us